Minggu, 16 Februari 2020

Sejarah Kerajaan Ismahayana Landak


Kerajaan Ismahayana Landak adalah sebuah kerajaan yang saat ini berlokasi di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Keraton Ismahayana Landak memiliki kronik sejarah yang relatif panjang, meskipun sumber-sumber tertulis yang membuktikan sejarah kerajaan ini bisa dikatakan sangat terbatas. Sama halnya dengan sumber dari cerita-cerita rakyat yang muncul di Ngabang, Kalimantan Barat, tempat di mana kerajaan ini berada. Kendati demikian, bukti-bukti arkeologis berupa bangunan istana kerajaan (keraton) hingga atribut-atribut kerajaan yang masih dapat kita saksikan hingga kini dan juga buku Indoek Lontar Keradjaan Landak yang ditulis oleh Gusti Soeloeng Lelanang (raja ke-19) pada tahun 1942, sesungguhnya cukup memadai untuk membuktikan perjalanan panjang kerajaan ini yang secara garis besar terbagi ke dalam dua fase, yakni fase Hindu dan fase Islam, ini telah dimulai sejak tahun 1275 M
Sejarah
Keraton Ismahayana Landak memiliki kronik sejarah yang relatif panjang, meskipun sumber-sumber tertulis yang membuktikan sejarah kerajaan ini bisa dikatakan sangat terbatas. Sama halnya dengan sumber dari cerita-cerita rakyat yang muncul di Kabupaten Ngabang, Kalimantan Barat, tempat di mana kerajaan ini berada. Kendati demikian, bukti-bukti arkeologis berupa bangunan istana kerajaan (keraton) hingga atribut-atribut kerajaan yang masih dapat kita saksikan hingga kini dan juga buku Indoek Lontar Keradjaan Landak yang ditulis oleh Gusti Soeloeng Lelanang (raja ke-19) pada tahun 1942, sesungguhnya cukup memadai untuk membuktikan perjalanan panjang kerajaan ini yang secara garis besar terbagi ke dalam dua fase, yakni fase Hindu dan fase Islam, ini telah dimulai sejak tahun 1275 M.
Fase Hindu
Kisah itu berawal pada tahun 1275 M, ketika Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, Pulau Jawa (Jawadwipa), mengirim bala tentara untuk memperluas kekuasaannya hingga ke kawasan Sumatra Tengah. ‘Invasi‘ ini dikenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu yang berlangsung hingga tahun 1292 M. Ketika para punggawa dan prajurit ekspedisi ini harus kembali ke tanah Jawa lantaran Raja Kertanegara wafat, Ratu Sang Nata Pulang Pali I, pemimpin salah satu rombongan, justru membelokkan armada pasukannya menuju Nusa Tanjungpura, yang kini dikenal sebagai Borneo atau Pulau Kalimantan.
Di pulau yang terkenal sebagai salah satu paru-paru dunia itu, perjalanan rombongan Ratu Sang Nata Pulang Pali I diawali ketika mereka singgah di daerah Padang Tikar, kemudian diteruskan menyusuri Sungai Tenganap yang kala itu dikisahkan sedang meluap, hingga akhirnya berlabuh di daerah Sekilap atau yang kini disebut Sepatah. Sementara, terdapat sumber lain yang menyebutkan bahwa beliau bersama rombongan berjalan melewati Ketapang dan menyusuri Sungai Kapuas hingga berbelok melalui Sungai Landak Kecil dan berhenti di Kuala Mandor (kini merupakan sebuah daerah di Kabupanten Landak, Kalimantan Barat) Di tempat inilah Ratu Sang Nata Pulang Pali I mendirikan Kerajaan Landak, dan nama daerah Sekilap kemudian diganti menjadi Ningrat Batur atau Angrat (Anggerat) Batur.
Konon, untuk membangun sebuah kerajaan, Ratu Sang Nata Pulang Pali I ‘menaklukkan‘ masyarakat setempat dengan cara membagi-bagikan garam. Pembagian garam inilah yang membuat masyarakat setempat respek pada kedatangan Ratu Sang Nata Pulang Pali I beserta rombongannya. Masyarakat lantas bersedia membantu beliau mendirikan sebuah bangunan yang dalam perkembangannya kemudian menjadi istana Kerajaan Landak. Sayangnya, tidak terdapat satupun sumber yang menjelaskan mengapa pendekatan membagikan garam secara cuma-cuma tersebut dipilih.
Dalam buku Lontar Kerajaan Landak disebutkan bahwa setelah Kerajaan Landak berdiri di Ningrat Batur (yang kini dikenal dengan nama Tembawang Ambator), periode pertama pemerintahan kerajaan ini bergulir cukup lama, yakni selama 180 tahun (1292—1472 M). Pada periode pertama pemerintahan Landak, negeri ini dipimpin oleh tujuh raja, yaitu Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga Raden Kusuma Sumantri Indera Ningrat dengan gelar kebangsawan Abhiseka Ratu Brawijaya Angkawijaya Ratu Sang Nata Pulang Pali VII. Selama masa kepemimpinan Ratu Sang Nata Pulang Pali I hingga VI, kerajaan ini tidak memiliki istana selayaknya sebuah kerajaan. Sampai pada akhinya tiba masa pemerintahan Ratu Sang Nata Pulang Pali VII di mana Kerajaan Landak memiliki kompleks istana terpadu untuk kali pertama.
Sebagaimana disebutkan dalam Indoek Lontar Keradjaan Landak (1942, dalam Usman, 2007: 5) Ratu Sang Nata Pulang Pali VII menikahi Putri Dara Hitam, putri dari Patih Tegak Temula, yang kemudian menjadi permaisuri kerajaan. Dari perkawinan tersebut, Ratu Sang Nata Pulang Pali VII memiliki keturunan bernama Abhiseka Sultan Dipati Karang Tanjung yang sekaligus merupakan putera mahkota. Setelah raja Landak terakhir di Ningrat Batur tersebut mangkat, sang putera mahkota kemudian naik tahta dengan gelar Pangeran Ismahayana. Berikut kutipan dari tulisan Gusti Sulung Lelanang di dalam Indoek Lontar Keradjaan Landak mengenai proses ini:
 “ ... adapun sebagai pangkal sejarah Kerajaan Landak, yaitu dari Raden Kusuma Sumantri Indra Ningrat (Ratu Bra Wijaya Angka Wijaya) yang mendirikan kerajaan Hindu di Angrat Batur (Ningrat Batur atau Batu Ningrat [Tembawang Ambator]) dan bergelar (Ratu) Sang Nata Pulang Pali (I). Beliau memiliki tujuh keturunan (hingga Pulang Pali terakhir atau Ratu Sang Nata Pulang Pali VII). Ratu Sang Nata Pulang Pali VII beristrikan “Dara Hitam” (putri dari Patih Tegak Temula dari Kurnia Sepangok tanjung Selimpat) dan berputrakan Raden Ismahayana (Iswarahayana). Apapun Raden Ismahayana, adalah raja (pertama) Kerajaan Landak yang memeluk agama Islam pada akhir abad XIV dan mendirikan ibunegeri (pusat pemerintahan) Kerajaan Landak di Munggu (Ayu)”.
Fase Islam
Pada era pemerintahan Pangeran Ismahayana (1472—1542), pusat kerajaan dipindahkan ke kawasan hulu Sungai Landak, yang kemudian dikenal dengan nama Mungguk Ayu. Pada masa inilah pengaruh Islam mulai masuk. Islam dibawa oleh orang-orang Bugis dan Banjar yang kala itu memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Landak. Pangeran Ismahayana kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Abdul Kahar. Sultan Abdul Kahar memiliki dua orang putra dari perkawinannya dengan Nyi Limbai Sari yang bergelar Ratu Ayu (putri Patih Wira Denta), yaitu Raden Tjili Tedung dan Raden Tjili Pahang.
Setelah Pangeran Ismahayana wafat, ia digantikan oleh putranya, yaitu Pangeran (Raden) Kusuma Agung Muda (Raden Tjili Tedung), yang menjadi Sultan Landak ke IX. Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan dipindahkan dari daerah Mungguk Ayu menuju Bandong (sebagian menyebutnya Bandung) pada tahun 1703, sebuah wilayah yang letaknya tidak jauh dari Mungguk Ayu. Alasan pemindahan pusat pemerintahan ke Bandong ini belum diketahui hingga saat ini. Namun, Kerajaan Landak di Bandong hanya bertahan hingga dua periode pemerintahan (1703—1768) di mana tampuk kekuasaan hanya sempat dipegang oleh Raden Kusuma Agung Muda (1703—1709) dan putranya, Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714—1764). Sepeninggalan Raden Nata Tua, jalannya pemerintahan untuk sementara dikendalikan oleh wakil raja, yakni Raden Anom Jaya Kusuma (1764—1768), sembari menunggu sang putera mahkota tumbuh dewasa.
Tatkala usia pemerintahan peralihan ini baru berlangsung kurang dari 4 tahun, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Bandong ke Kota Ngabang pada tahun 1768 oleh wakil raja tersebut (Raden Anom Jaya Kusuma). Kerajaan Landak kemudian menetapkan Kota Ngabang—kini menjadi ibukota Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat (hingga April 2009)—sebagai ibukota yang baru. Peristiwa hijrah ke Ngabang ini sekaligus mentahbiskan putera mahkota, Raden Nata Muda Pangeran Sanca Nata Kusuma, sebagai Sultan Landak XII (1768—1798).
Lembaran baru Kerajaan Landak di Ngabang ternyata tidak membawa kemajuan berarti hingga hampir dua abad lamanya. Terlebih pascakedatangan VOC Belanda di Borneo. Kehadiran Belanda di Kalimantan Barat lambat laun menggoyahkan posisi para sultan sebagai pemimpin masyarakat di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Tak hanya ranah politik yang diambil, Belanda juga menyerap segenap sumber daya ekonomi dan manusia. Masyarakat Ngabang dimanfaatkan untuk bekerja di lokasi-lokasi penambangan intan milik VOC. Menyadari situasi ini sangat merugikan kerajaan dan rakyat Landak, sultan beserta rakyat Landak kemudian melakukan pemberontakan. Tertera dalam catatan administratur kolonial, beberapa perlawanan ketika itu, antara lain pemberontakan Ratu Adil (1831), pemberontakan Gusti Kandut (1890), serta pemberontakan Gusti Abdurrani (1899).
Segala perlawanan yang dilakukan tidak pernah membuahkan hasil, dan justru kerajaan ini mengalami kevakuman kekuasaan ketika terjadi peristiwa Mandor yang tragis pada masa kependudukan Jepang. Peristiwa ini merupakan pembantaian terhadap ratusan ribu warga Kalimantan Barat, termasuk di dalamnya raja dan para kerabat kerajaan-kerajaan se-Kalimantan Barat. Dari peristiwa ini, banyak kerajaan di Kalimantan Barat yang kehilangan pewaris sah-nya.  
Setelah mengalami kevakuman tampuk kepemimpinan yang cukup lama, baru pada tahun 2000, atas persetujuan rakyat Landak, Kerajaan Landak dibangunkan dari tidurnya yang panjang dengan Gusti Suryansyah Amiruddin sebagai sultannya. Jika dirunut dari awal, Gusti Suryansyah merupakan sultan ke-39 semenjak Kerajaan Landak berdiri.
Beliau mewarisi bangunan istana Kerajaan Landak di Ngabang yang terdiri dari tiga bagian, yakni: (1) kompleks istana mencakup: Istana Landak (Istana Ilir), Kediaman Permaisuri (Istana Ulu), serta Kediaman Neang Raja (rumah sultan); (2)Masjid Djami Keraton Landak; dan (3) makam raja-raja. Istana ini mulai dipugar dan direnovasi kembali sekitar tahun 1950-an dan 1960-an setelah peristiwa kebakaran yang mengakibatkan kerusakan pada beberapa bagian istana. Selain itu, perbaikan bangunan telah beberapa kali dilakukan oleh pemerintah daerah, seperti renovasi yang dikerjakan selama 4 tahun (1978—1982) dan diresmikan oleh Haryati Subadio, Dirjen Kebudayaan kala itu, pada tanggal 4 Oktober 1983. Sementara, kondisi kompleks Keraton Landak saat ini merupakan hasil renovasi sekitar tahun 2000-an.
Silsilah
Silsilah Raja-raja Kerajaan Landak dibagi menjadi empat periode pemerintahan serta dua fase keagamaan: Hindu dan Islam. Keempat periode yang dimaksud berkiblat pada keberadaan Istana Kerajaan Landak yang tercatat pernah menempati empat lokasi berbeda.
Fase Hindu
I. Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292—1472)
Ratu Sang Nata Pulang Pali I
Ratu Sang Nata Pulang Pali II
Ratu Sang Nata Pulang Pali III
Ratu Sang Nata Pulang Pali IV
Ratu Sang Nata Pulang Pali V
Ratu Sang Nata Pulang Pali VI
Ratu Sang Nata Pulang Pali VII
Fase Islam
II. Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472—1703)
Raden Iswaramahayan Raja Adipati Karang Tanjung Tua atau Raden Abdul Kahar (1472—1542) (Islam masuk pada periode ini di Kerajaan Landak).
Raden Pati Karang Raja Adipati Karang Tanjung Muda (1542—1584)
Raden Cili (Tjili) Pahang Tua Raja Adipati Karang Sari Tua (1584—1614)
Raden Karang Tedung Tua (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Tua (1614—1644)
Raden Cili (Tjili) Pahang Muda Raja Adipati Karang Sari Muda (1644—1653)
Raden Karang Tedung Muda (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Muda (1679—1689)
Raden Mangku Tua (wakil raja) Raja Mangku Bumi Tua (1679—1689)
Raden Kusuma Agung Tua (1689—1693)
Raden Mangku Muda (wakil Raja) Pangeran Mangku Bumi Muda (1693—1703)
III. Kerajaan Landak di Bandong (1703—1768)
Raden Kusuma Agung Muda (1703—1709)
Raden Purba Kusuma (wakil raja) Pangeran Purba Kusuma (1709—1714)
Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714—1764)
Raden Anom Jaya Kusuma (wakil raja) Pangeran Anom Jaya Kusuma (1764—1768)
IV. Kerajaan Landak di Ngabang (1768—sekarang)
Raden Nata Muda Pangeran Sanca Nata Kusuma (1768—1798)
Raden Bagus Nata Kusuma (wakil raja) Ratu Bagus Nata Kusuma (1798—1802)
Gusti Husin (wakil raja) Gusti Husin Suta Wijaya (1802—1807)
Panembahan Gusti Muhammad Aliuddin (1807—1833)
Haji Gusti Ismail (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Haji Gusti Ismail (1833—1835)
Panembahan Gusti Mahmud Akamuddin (1835—1838)
Ya Mochtar Unus (wakil panembahan) Pangeran Temenggung Kusuma (1838—1843)
Panembahan Gusti Muhammad Amaruddin Ratu Bagus Adi Muhammad Kusuma (1843—1868)
Gusti Doha (wakil panembahan) (1868—1872)
Panembahan Gusti Abdulmajid Kusuma Adiningrat (1872—1875)
Haji Gusti Andut Muhammad Tabri (wakil panembahan) Pangeran Wira Nata Kusuma (1875—1890)
Gusti Ahmad (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Ahmad (1890—1895)
Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895—1899)
Gusti Bujang Isman Tajuddin (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Bujang (1899—1922)
Panembahan Gusti Abdul Hamid (1922—1943)
Gusti Sotol (wakil panembahan) (1943—1945)
Haji Gusti Mohammad Appandi Ranie (wakil panembahan) Pangeran Mangkubumi Gusti Mohammad Appandi Ranie Setia Negara (1946, hanya sekitar 4 bulan berkuasa)
Pangeran Ratu Haji Gusti Amiruddin Hamid ( — )
Drs. Gusti Suryansyah Amiruddin, M.Si. Pangeran Ratu Keraton Landak (2000—sekarang)
Periode Pemerintahan
Periode pemerintahan kerajaan ini di bagi ke dalam empat periode dari dua fase, yaitu:
Fase Hindu
a. Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292—1472)
Fase Islam
b. Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472—1703)
c. Kerajaan Landak di Bandong (1703—1768)
d. Kerajaan Landak di Ngabang (1768—sekarang)
Ningrat batur merupakan lokasi pertama di mana Kerajaan Landak berkedudukan 180 tahun lamanya. Pada fase berikutnya, keberadaan Kerajaan Landak di Mungguk Ayu cenderung lebih mampu bertahan lebih lama daripada di Ningrat Batur, yakni hampir dua seperempat abad dengan delapan kali pergantian tampuk kekuasaan (9 raja berkuasa).
Kisah Kerajaan Landak di Mungguk Ayu ini merupakan masa-masa awal tatkala Islam mulai masuk dan menjadi agama pilihan sang raja. Raja Landak pemeluk Islam pertama kali ialah Raden Iswaramahayana Raja Adipati Karang Tanjung Tua Raden Abdul Kahar atau yang kita kenal dengan Raden Ismahayana. Oleh karena beliau merupakan raja pertama yang memeluk Islam, nama Kerajaan Landak pun berganti nama menjadi Kerajaan Ismahayana Landak. Menurut Gusti Suryansyah, sisipan nama ‘Ismahayana‘ yang dipertahankan hingga kini berlaku sebagai penanda bahwa kerajaan ini pernah berhalauan Hindu.
Pada perkembangan selanjutnya, pusat kerajaan dipindah ke daerah Bandong di tahun 1703. Namun, Kerajaan Landak hanya mendiami tempat ini selama 65 tahun sebelum hijrah untuk yang terakhir kalinya ke daerah Ngabang pada tahun 1768.
Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Kerajaan Ismahayana Landak kira-kira mencakup seluruh Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pada tiga periode awal, secara geografis wilayah yang dikuasai kerajaan ini meliputi daerah sepanjang Sungai Landak berikut sungai-sungai kecil yang merupakan cabang darinya. Sungai yang merupakan anakan Sungai Kapuas ini memiliki panjang sekitar 390 km.
Dalam perkembangannya kemudian, cakupan wilayah kekuasaan Landak semakin luas hingga daerah-daerah pedalaman. Jika dibayangkan dengan kondisi saat ini, kira-kira batas wilayah Kerajaan Landak menyerupai wilayah Kabupaten Landak yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sanggau di sebelah timur; Kabupaten Pontianak di sisi barat; Kabupaten Bengkayang di bagian utara; dan bagian selatan oleh Kabupaten Ketapang.
Ditengarai bahwa alasan pokok para pendahulu Kerajaan Landak memilih bantaran Sungai Landak sebagai tempat bermukim adalah karena di sepanjang sungai ini memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa, yakni intan dan emas. Sejarah mengatakan bahwa intan terbesar yang pernah ditemukan dan dimiliki oleh Kerajaan Landak bernama Palladium Intan Kubi (intan ubi) dengan berat 367 karat. Setelah penemuan itu, intan tersebut diberi nama sebagai Intan Danau Raja. Intan ini ditemukan tatkala Raden Nata Tua Pangeran Sanca Nata Kusuma Tua (1714—1764) bertahta sebagai raja Landak ke XIX di Bandong.
Lebih lanjut, sebagai sebuah kerajaan, Landak tidak menutup diri dengan dunia luar. Kerajaan ini justru aktif menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Kalimantan Barat. Relasi yang dibangun adalah hubungan kekerabatan, seperti dengan Kesultanan Sambas Alwazikhubillah, Kerajaan Mempawah Amantubillah, Kerajaan Sanggau, Kerajaan Matan, dan Kerajaan Tayan.
Kerajaan Landak dan Kesultanan Sambas
Dengan Kesultanan Sambas, Kerajaan Landak memiliki hubungan historis secara kekerabatan semenjak masa pemerintahan sultan pertama Kesultanan Sambas, yakni Raden Sulaiman Sultan Muhammad Tsafiuddin I. Kala itu, anak ketiga dari Sultan Sambas, Raden Ratna Kumala Dewi, dipersunting Raden Demang Pangeran Dipanegara Putera—putera dari pasangan Pangeran Adipati Nata Kusuma dan Puteri Ratu Mas Adi bin Pangeran Anom Jaya Kusuma.
Dari perjodohan tersebut, lahirlah beberapa orang anak, salah satunya adalah Utin Kumala yang bergelar Ratu Agung. Beliau pada perjalanannya menjadi permaisuri dari Raden Mulia Sultan Umar Aqamuddin. Anak-anak dari Ratu Agung dan Raden Mulia inilah yang kemudian menurunkan sultan-sultan yang memimpin Kesultanan Sambas.
Kerajaan Landak dan Kerajaan Mempawah
Hubungan kekerabatan antarkerajaan Islam ini sudah dimulai sejak masa Pemerintahan Opu Daeng Manambon Panembahan Mas Surya Negara peletak dasar kehadiran Kerajaan Mempawah. Beberapa perkawinan dilakukan dan salah satunya melahirkan keturunan yang memerintah Kerajaan Landak periode 1802—1807, yakni Gusti Husin yang bergelar Pangeran Suta Wijaya.
Selain itu, Kerajaan Mempawah memberi pengaruh dalam hal pemberian nama gelar bangsawan bagi keturunan di Kerajaan Landak. Sejak perjodohan pertama kalinya, yakni antara Ratu Bagus Nata Kusuma dan Utin Dawaman, maka sejak itu pulalah juriat bangsawan kerajaan Landak bergelar Gusti (untuk laki-laki) dan Utin (untuk perempuan). Dan, perlu diketahui bahwa raja Landak saat ini, yakni Gusti Suryansyah Amiruddin masih mempunyai keturunan langsung dari Kerajaan Mempawah Amantubillah.
Kerajaan Landak dan Kerajaan Sanggau
Kerajaan Sanggau dengan Landak telah bergandengan tangan sejak masa Pemerintahan Pangeran Kusuma Agung Muda, raja Landak ke-16. Hal ini ditandai dengan pernikahan Raden Ijang dengan kerabat dari Kerajaan Sanggau. Kemudian, berlanjut dengan putri dari Raden Ijang, yakni Ratu Ayu dipersunting oleh Abang Ahmad yang bergelar Sultan Ahmad Jamaluddin (Raja Sanggau). Pasangan inilah yang kemudian menurunkan juriat pemerintahan Kerajaan Sanggau.
Kerajaan Landak dan Kerajaan Matan
Hubungan kekerabatan antara Kerajaan Landak dengan Kerajaan Matan bermula sejak masa pemerintahan pangeran Sanca nata Kusuma Tua atau Raden Nata Tua, raja Landak XIX. Ketika itu, perjodohan terjadi antara Ratu Mas Jaintan atau Ratu Mas Zaitun dengan Panembahan Giri kusuma (Kerajaan Matan). Ratu Mas Zaitun ini kemudian bergelar Ratu Sukadana dan memerintah di Kerajaan Matan.
Kerajaan Landak dan Kerajaan Tayan
Perjodohan juga menjadi jalan bagi Kerajaan Landak dan Tayan untuk menjalin kekerabatan. Hal ini terbangun sejak perkawinan antara Utin Busu (putri Pangeran Mangkubumi gusti Ismail Isya Raja Haji [wakil raja Landak ke-25]) dengan Panembahan Kerajaan Tayan, Gusti Inding Pangeran Mangkunegara Surya Kusuma. Selain itu, juga terjadi perkawinan antara Pangeran Mangkubumi Gusti Bujang Isman Tajuddin (wakil raja Landak ke-34) dengan Utin Sakdiyah (puteri dari Panembahan Kerajaan Tayan, Gusti Mohammad Ali Paku Negara Surya Kusuma)
Struktur Pemerintahan
Sejak berdiri pada tahun 1292, pemerintah Kerajaan Landak menggunakan sistem pemerintahan kerajaan atau swapraja. Sistem ini berlangsung hingga tahun 1959 ketika dikeluarkannya Undang-undang Darurat Nomor 37 tahun 1953 yang disusul oleh Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959. Peraturan yang dikeluarkan pemerintah Republik Indonesia tersebut menyatakan bahwa semua daerah swapraja menjadi daerah otonom tingkat II, kecuali bekas daerah kawedanan yang kemudian menjadi kecamatan. Oleh karena itu, daerah Swapraja Landak yang berpusat di Kota Ngabang, menempatkan Ngabang sebagai salah satu kecamatan yang berada dalam wilayah administrasi Swatantara Tingkat II, Pontianak.
Selama hampir tujuh setengah abad sejak kerajaan ini berdiri, Landak secara silih berganti telah dipimpin oleh 37 orang, baik raja maupun wakil raja. Kemudian, setelah 41 tahun berselang sejak dihapuskannya sistem swapraja (pemerintahan kerajaan), masyarakat Kabupaten Landak berupaya menghidupkan kembali Kerajaan Landak pada awal tahun 2000. Mereka secara aklamasi bersepakat untuk mengukuhkan seorang pangeran ratu sebagai raja Landak. Adalah Gusti Suryansyah Amiruddin yang naik tahta Kerajaan Landak yang sempat vakum itu. Hingga kini raja yang bergelar Pangeran Ratu Keraton Landak tersebut menjadi raja yang sah menurut masyarakat Landak dan seluruh kesultanan di Kalimantan Barat (hingga Mei 2009).
Koleksi
Istana Kerajaan Landak di Kota Ngabang menyimpan pelbagai warisan budaya dansejarah dalam koleksi bendawi, di antaranya: Mahkota Sultan Landak, Keris Sikanyut, sepasang pedang sakti, tempat tidur panembahan dan isterinya, duplikat payung kebesaran sultan, dua kipas raja, seperangkat gamelan, dan Al Quran kuna. Selain itu, ada juga artefak-artefak lain seperti: Meriam Sipenyuk dan empat buah meriam lainnya, lontar silsilah raja dan sejarah singkat Kerajaan Landak, foto-foto keluarga sultan, bendera kerajaan, serta perlengkapan upacara perkawinan adat berupa timbangan dari kayu.
Kehidupan Sosial-Budaya
Barangkali, hingga kini, satu-satunya sumber otentik (dalam wujud tulisan) yang berbicara mengenai kehidupan masyarakat pimpinan Kerajaan Landak adalah naskah kuna Indoek Lontar Keradjaan Landak yang ditulis oleh Goesti Soelong Lelanang bin Goesti Mahmoed Pangeran Laksemana Keradjaan Landak pada tahun 1942. Usman mengatakan bahwa meski hanya sekilas di dalam karyanya tersebut, Goesti Soelong Lelanang tidak hanya mengilustrasikan seperti apa kehidupan masyarakat Landak kala itu, melainkan juga bagaimana interaksi Kerajaan Landak baik dalam negeri maupun ke luar.
Di dalam, masyarakat yang berada di dalam kekuasaan Kerajaan Landak sebagian besar berprofesi sebagai penambang emas dan intan. Masyarakat ini juga telah menjalankan aktivitas sebagai pedagang. Sementara dengan pihak luar, Kerajaan Landak menjalin hubungan bilateral dengan puak Melayu. Sebagai misal, Kerajaan Landak menjalin hubungan dengan Serawak (Malaysia), Brunei, serta suku Bugis dan Banjar. Motifnya tak hanya ekonomi di mana mereka memungkinkan untuk saling bertukar barang-barang keperluan di masing-masing negeri, melainkan juga penyempurnaan Agama Islam yang di anutnya.‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar