Senin, 17 Februari 2020

Sejarah Kerajaan Segati


Kerajaan Segati didirikan oleh Tuk Jayo Sati, cucu dari Maharajo Olang dari Kuantan. Lokasi kerajaan berada di hulu Sungai Segati, 15 km dari Negeri Langgam sekarang, di tepi Sungai Kampar. Pada awalnya, pusat kerajaan berada di Ranah Tanjung Bungo, Negeri Langgam sekarang. Kemudian, oleh putranya yang bernama Tuk Jayo Tunggal, pusat kerajaan dipindahkan ke Ranah Gunung Setawar, di hulu Sungai Segati.
Dalam perkembangannya, kemudian datang utusan dari Negeri Gunung Sahilan ke Segati membawa lada hitam. Raja Segati, Tuk Jayo Tunggal membeli lada tersebut dan menjualnya ke Kota Macang Pandak Kuantan. Sejak saat itu, perdagangan lada antara Segati dengan Kuantan mulai ramai dan berkembang. Perdagangan bertambah ramai, seiring dengan datangnya utusan dari Gunung Hijau (diduga Pagaruyung) yang menawarkan timah. Tuk Jayo Tunggal membeli timah ini dan memperdagangkannya di Bandar Sangar, Kuala Kampar. Setelah Tuk Jayo Tunggal meninggal, putranya, Tuk Jayo Alam naik tahta menggantikannya
Di masa Tuk Jayo Alam berkuasa, Kerajaan Segati yang berpusat di Negeri Ranah Gunung Setawar mencapai kejayaannya. Dalam relasi perdagangan antara Segati dengan Kuantan dan Sangar, berbagai komoditas diperdagangkan, seperti rempah-rempah, terutama cabe.
Perkembangan pesat Kerajaan Segati ternyata telah menimbulkan perasaan iri pada kerajaan tetangga, yaitu Gassib. Dengan dipimpin oleh Hulubalang Panglima Puto, Raja Gassib kemudian menyerang Kerajaan Segati dan dapat menguasai Negeri Ranah Gunung Setawar. Raja Segati, Datuk Jayo Alam melarikan diri ke hulu Sungai Segati. Di sini, raja dan para pengikutnya membangun negeri baru yang mereka sebut Negeri Segati. Disebut demikian, karena perbekalan raja ketika itu tinggal sekati lada. Oleh karena itu, negerinya dinamai negeri Segati. Dari Segati, raja kembali menyusun kekuatan dan menyerang Gassib yang menguasai negerinya. Dalam serangan tersebut, Datuk Jayo Alam berhasil merebut kembali Ranah Gunung Setawar, sementara hulubalang Gassib melarikan diri ke negeri asalnya. Walaupun Ranah Gunung Setawar telah dikuasainya kembali, namun, Datuk Jayo Alam tetap memerintah dari Segati, sehingga pusat kerajaannya tetap di sana.
Setelah Tuk Jayo Alam meninggal dunia, ia diganti oleh putranya, Tuk Jayo Laut. Dinamakan demikian, karena ia sering berlayar ke laut. Pada masa ini, perdagangan lada bertambah ramai. Tuk Jayo Laut digantikan oleh putranya, Tuk Jayo Tinggi, kemudian digantikan oleh Tuk Jayo Gagah. Tuk Jayo Gagah digantikan oleh Tuk Jayo Kolombai dan kemudian digantikan oleh Tuk Jayo Bedil. Tuk Jayo Bedil adalah raja yang pertama menggunakan bedil.
Pada masa Tuk Jayo Bedil, perdagangan dengan Malaka tak dapat lagi dilakukan, karena Malaka telah dikalahkan oleh bajak laut Peringgi (Portugis). Oleh karena itu, perdagangan hanya dilakukan dengan Kuantan melalui Negeri Ranah Koto Macang Pandak.
Pada waktu itu, datanglah utusan dari Tuk Sangar Raja Dilaut meminta bantuan untuk menyerang Peringgi di Malaka. Tuk Jayo Bedil menyetujui permintaan itu dan mengirimkan angkatan perangnya, dipimpin oleh Panglima Kuntu. Bersama Tuk Sangar Raja Dilaut, Panglima Kuntu menyerang Peringgi di Laut Simpang Empat, di Pulau Siapung Atas (Serapung). Saat itu, kedua panglima ini sangat terkenal dengan angkatan lautnya yang tangguh, yang menguasai Kuala Kampar. Setelah Tuk Sangar Raja Dilaut tua, beliau digantikan oleh putranya, Tuk Sangar Raja Dilaut Muda.
Berkaitan dengan Panglima Kuntu, ia ditarik kembali ke Segati, dan pasukan dipimpin oleh Orang Besar Segati yang berasal dari Gunung Hijau bersama dengan Sultan Peminggih. Di bawah pimpinan kedua hulubalang muda ini, banyak kapal Peringgi dikaramkan.
Bertahun-tahun kemudian, datanglah utusan dari Aceh. Karena penduduk Segati masih memeluk agama Hindu-Budha, maka Aceh menuntut agar Segati memeluk agama Islam. Tuntutan Aceh ini ditolak oleh Tuk Jayo Bedil. Dalam perkembangannya, Aceh terus melakukan ekspedisi untuk menaklukkan daerah pesisir timur Sumatra. Karena Segati adalah salah satu negeri yang memperdagangkan lada, Aceh menganggap perlu untuk menaklukkan Segati. Dengan alasan penyebaran agama Islam, Aceh kemudian menyerang dan menghancurkan Segati hingga rata dengan tanah.  Dalam proses serangan tersebut, ekspedisi Aceh menggunakan jalur sungai, dengan berperahu ke arah hulu Sungai Kampar. Ketika itu, pasukan Aceh melewati daerah kekuasaan Tuk Raja Sangar Dilaut di Sungai Kampar, namun, Tuk Sangar tidak menghalangi Aceh, sebab dianggap teman sejawat dalam memerangi Portugis. Selanjutnya, dengan leluasa, Aceh terus berlayar ke arah hulu Sungai Kampar dan langsung dapat menyerang Segati.
Tentu saja Segati bukan tandingan Aceh yang memiliki pasukan terlatih itu. Setelah bertempur selama beberapa hari, Segati dapat ditaklukkan dan diratakan dengan tanah. Pasukan Aceh selanjutnya melanjutkan serangan ke arah Siak di mana berdiri Kerajaan Gasib. Sebagaimana Segati, Gassib dapat ditaklukkan oleh pasukan Aceh.
Setelah Segati kalah, Tuk Jayo melarikan diri ke daerah Petalangan Napuh, kemudian terus ke Kuantan. Bekas-bekas penaklukan Aceh saat ini masih dapat kita jumpai dengan adanya tempat-tempat yang bernama Rencong Aceh, Pangkalan Aceh, dan Lubuk Aceh. Pada tahun-tahun berikutnya, di Segati didirikan negeri baru dengan nama Tambak, tak lama kemudian, lokasinya dipindahkan ke muara sungai dengan nama baru: Langgam.
Silsilah
Berikut ini silsilah raja yang pernah berkuasa di Segati, yaitu:
Tuk Jayo Sati
Tuk Jayo Tunggal
Tuk Jayo Alam
Tuk Jayo Laut
Tuk Jayo Tinggi
Tuk Jayo Gagah
Tuk Jayo Kolombai
Tuk Jayo Bedil
Periode Pemerintahan
Sepanjang sejarah Kerajaan Segati, sekurangnya telah berkuasa delapan orang raja. Namun, belum diketahui secara detail periode masing-masing raja tersebut. Kerajaan Segati ini sezaman dengan Kerajaan Aceh dan Malaka. Maka, bisa diperkirakan bahwa, kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-15 hingga ke-16 M.
Wilayah Kekuasaan
Segati hanyalah sebuah kerajaan kecil, dengan luas wilayah diperkirakan hanya mencakup beberapa desa yang ada di hulu Sungai Segati. Jika dibandingkan secara geografis, mungkin luas wilayahnya setara dengan luas kecamatan saat ini. Saat itu, Kerajaan Segati menguasai bagian hulu Sungai Segati, sekitar daerah Langgam sekarang.
Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat Segati menganut agama Budha, namun, tidak ada penjelasan bagaimana sikap relijiusitas masyarakat Segati saat itu. Untuk  memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka bergantung dari sektor pertanian. Ketika kerajaan masih dalam keadaan jaya, masyarakat banyak juga yang aktif di sektor perdagangan. 
Bagaimana dengan tradisi tulis baca, ritual keagamaan maupun sisi sosial budaya lainnya? karena minimnya data sejarah, terutama peninggalan tertulis, maka agak sulit untuk menggambarkan secara detil mengenai kehidupan sosial budaya saat itu.
Kejatuhan Kerajaan Segati
Pada masa pemerintahan Tuk Jayo Bedil, perdagangan dengan Malaka tidak dilakukan lagi. ‎Hal ini disebabkan telah kalahnya Malaka atas bajak laut Peringgi ‎(Portugis). Oleh karena itu, Kerajaan Segati hanya melakukan perdagangan dengan Kuantan melalui Negeri Ranah Koto Macang Pandak. Pada waktu itu, datang seorang utusan Tuk Sanggar Raja Dilaut yang meminta bantuan Kerajaan Segati untuk menyerang Peringgi di Malaka. Tuk Jayo Bedil menyetujui permintaan tersebut dan mengirimkan angkatan perangnya yang dipimpin oleh ‎Panglima Kuntu. Dengan gabungan kekuatan dua kerajaan ini, terkenallah mereka dengan angkatan lautnya yang tangguh, yang menguasai Kuala Kampar. 
Setelah tua, Tuk Sanggar Raja Dilaut digantikan oleh Tuk Sanggar Dilaut Muda dan Panglima Kuntu dipanggil kembali ke Segati. Pemimpin pasukan digantikan oleh orang Besar Segati, yang berasal dari Gunung Hijau (Pagaruyung) yang bernama ‎Sutan Peringgih. Di bawah pimpinan kedua hulubalang (Panglima Kuntu dan Sutan Peringgih), banyak kapal Peringgi dikaramkan. Beberapa tahun kemudian, datanglah utusan dari Aceh. Utusan Aceh tersebut menuntut agar Segati memeluk agama Islam. Karena Segati sebagai salah satu negeri yang memperdagangkan lada, maka, Aceh merasa perlu menaklukan negeri Segati. Saat itu, penduduk Segati memeluk agama Hindu atau Budha. Namun, tuntutan tersebut ditolak oleh Tuk Jayo Bedil. Setelah bertempur selama beberapa hari, Kerajaan Segati dapat ditaklukan dan diratakan dengan tanah oleh Kerajaan Aceh. Setelah Segati kalah, Tuk Jayo Bedil melarikan diri ke daerah Petalangan Napuh, kemudian ke Kuantan. Bekas-bekas serangan Aceh masih dapat dijumpai dengan adanya tempat-tempat yang bernama Rencong Aceh, Pangkalan Aceh, dan Lubuk Aceh di Riau.‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar