Sabtu, 22 Februari 2020

Sejarah Wirasaba


Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 – 1500 M, dan mencapai masa kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yaitu pada tahun 1350 hingga 1389. Pada masa itu kekuasaan Majapahit adalah Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur (masih di perdebatkan). Sehingga kota-kota yang berada di selatan gunung Slamet seperti Wirasaba, Kedjawar dan Pasirluhur merupakan termasuk kota-kota di wilayah kekuasaan Majapahit.

Pada masa berdirinya Majapahit, pedagang-pedagang Islam dari Kasultanan Malaka sudah mulai masuk ke perairan Nusantara bagian barat dan menyebarkan Islam di daratan Sumatra. Sehingga menyebabkan pengaruh kekuasaan Majapahit mulai berkurang dan satu-persatu mulai melepaskan diri.

Pada tahun 1468 Pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana (Brawijaya IV) dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit dengan gelar Brawijaya V. Sehingga sejumlah pembesar Majapahit yang tersisihkan dari istana termasuk saudara beda ibu Kerthabhumi yaitu Raden Harya Baribin Pandhita Putra melarikan diri ke arah barat, meminta suaka kepada penguasa Sunda - Galuh yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475 ) di Ciamis.

Menurut saya melarikan diri bukan karena diserang oleh Kesultanan Demak/Keling, karena Kesultanan Demak menyerang Kerajaan Majapahit pada tahun 1527 M, dimana raja Majapahit adalah Ranawijaya dengan gelar Girindrawardhana (Brawijaya VI). Dimana Ranawijaya mengaku telah mengalahkan Kertabhumi dan telah memindahkan  ibukota kerajaan Majapahit ke Daha (Kediri), ini menyebabkan kemarahan Sultan Demak Pati Unus yang merupakan keturunan Kertabhumi dan Pendukung Ranawijaya mengungsi ke Pulau Bali

Dalam pelariannya, sampailah Raden Baribin di kerajaan Pajajaran yang kala itu diperintah oleh Prabu Siliwangi (Prabu Lingga Wastu ) Mendengar berita kedatangan adik raja Majapahit tersebut, Prabu Siliwangi memberikan suaka kepada Raden Haryo Baribin. Hingga pada akhirnya Raden Haryo Baribin menetap dan dinikahkan dengan Dewi Retna Pamekas, putri dari Prabu Siliwangi.

Adapun keturunan Raden Baribin dan Dyah Ayu Ratu Pamekas adalah Raden Ketuhu, Raden Banyaksasra, Raden Banyakkusuma yang kelak tinggal di Kaleng (Kebumen), dan yang keempat R. Rr Ngaisah.

R Jaka Katuhu meninggalkan Kraton Pakuan Parahyangan untuk berkelanan ke tanah Jawa dan akhirnya sampai di desa Buwara; Disana dijadikan anak angkat Ki Lurah Buwara yang tidak memiliki keturunan
Raden Jaka Ketuhu yang semula menyamar sebagai seorang peminta-minta. Karena merasa iba, maka pemuda itu lalu disuruh tinggal dirumah Kiai Gede Buara dipedukuhan itu.

Raden Jaka Ketuhu adalah Putera sulung Raden Beribin memerintahkan kepada Jaka Ketuhu agar pergi mengembara pergi ke timur serta mengabdi kepada siapa saja yang mau menerimanya. Sesampainya wilayah Kadipaten Wirasaba ia dapat diterima mengabdikan diri kepada Kiai Gede Buara.

Setiap hari ia bekerja di tegalan membantu Kiai Gede Buara menanam berbagai macam tanaman yang bisa menghasilkan termasuk karang kitri.
Tetapi aneh, tiap pulang kerumah, Jaka Ketuhu tidak mau berjalan bersama-sama Kiai Gede Buara. Ia selalu pulang belakangan. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan dibatin Kiai Gede Buara, sehingga ia ingin mengetahui apa sebab musababnya.

Pada suatu sore Kiai Gede Buara terpaksa mencoba menyelidikinya. Sementara itu tampaklah ditelaganya api yang berkobar. Dan apa yang dilihatnya? Raden Jaka Ketuhu tiba-tiba meloncat masuk kedalam kobaran api tersebut.

Tentu saja perbuatan itu membuat hati Kiai Gede Buara menjadi cemas Namu kecemasan itu tiba-tiba keheranan, karena beberapa saat kemudian Raden Jaka Ketuhu keluar dari kobaran api , dan tubuhnya tampak lebih bercahaya bagaikan emas dua pulu karat.

Bekas tegalan yang digarap Kiai Gede Buara itu hingga sekarang terkenal dengan sebutan “Cibuek”. Luasnya kurang lebih satu setengah hektar. Diatasnya tumbuh 25 dapuran bamboo dari berbagai macam jenis. Sementara orang masih menganggap , dukuh Cibuek itu sangat keramat. Lokasinya disebelah timur desa Majatengah kecamatan Kemangkon, dan merupakan tanah perdikan (tanah yang tidak dipungut pajak).

R.JaKa Katuhu membantu perluasan ladang pertanian Ki Lurah Buwara, dengan membakar daun/ranting sehingga tjahaya membumbung memancar keudara terlihat dari kadipaten Wirasaba;

Kanjeng Adipati Wirahudaya pun menyelidiki dan memanggil Ki Lurah Burawa & Jaka Katuhu, dan akhirnya  diketahuilah asal usul Jaka Katuhu;
Sehingga Adipati Wirahudaya berkeinginan mengangkat putera R.Jaka Katuhu karena di tidak dikarunia keturunan hingga usia tuanya.

Ketika tiba waktunya Pisowanan Ageng di Kraton Majapahit, Adipati Wirahudaya sedang menderita sakit. Maka diutuslah R Jaka Katuhu untuk mewakili menghadap Prabu Brawijaya V, menghaturkan upeti kepada Sri Baginda;

Keberangkatannya ke Majapahit diantar oleh Patih Wirasaba, Raden Bawang, dan adik Sang Adipati.
Pada saat menghadap Sang Prabu Brawijaya V, ditanyakan asal usul R Jaka Katuhu, karena yang bertanya adalah Raja yang sekaligus uwaknya maka ia terus terang bahwa ia adalah putera R Harya Baribin Pandhita Putera, menantu Sri Prabu Linggawastu Ratu Purana  dari Kraton Pakuan Parahiyangan di tanah Pasundan.

Mendengar nama R Harya Baribin, Sang Prabu terkejut dan tidak mengira bahwa Jaka Katuhu ternyata putera adik kandungnya sendiri. R Baribin melarikan diri pada masa Prabu Brawijaya V menjadi Raja Majapahit, ia difitnah oleh beberapa punggawa kraton yang akan merebut kekuasaaan, sehingga diperintahkan ditangkap; Fitnah itu dari kelompok Patih Majapahit saat itu. Fitnah tsb. yang akhirnya terbokngkar kedoknya; sehingga Sang Prabu Brawijaya V menyesal asal tindakannya terkena provokasi.

Raden Jaka Katuhu kasengkakaken ing ngaluhur (kembali diangkat derajatnya sebagai bangsawan Kraton) dan dibait'an menjadi Adipati Anom Wirasaba dengan gelar Adipati Anom Wirahutama. Selain dihadiahi seorang isteri bernama Putrisari salah satu puteri Mahapatih Majapahit; Dan dijinkan memperluas wilayah Kadipaten Wirasaba sampai ujung timur hingga lereng barat Gunung Sindoro Sumbing di Wilayah Kedu.

Karena perjalanan jauh dari Keraton Majapahit ke Kadipaten Wirasaba, sehari sebelum tiba di Wirasaba rombongan beristirahat agar sampai tujuan pasukan yang mengiringnya tidak kelelahan. Dan ini dijadikan kesempatan oleh Pangeran Bawang untuk menghalangi Adipati Anom kembali ke Wirasaba, karena dialah yang sudah sekian lama mengincar kedudukan Adipati Wirahudaya (Wirautama I). Dengan berpura-pura pulang terlebih dahulu untuk memberitahu Adipati Wirahudaya agar tidak terkejut menghadapi kedatangan rombongan Adipati Anom. Tapi justru Raden Bawang malah menghasut Adipati Wirahudaya dan mempersiapkan bala tentara Wirasaba dan kembali ketempat dimana Adipati Anom Beristirahat di Kali palet. Maka terjadilah pertempuran yang di menangkan oleh pasukan dari Majapahit dan bahkan Raden Bawang beserta keluarga dan pasukan nya  pun tewas dan di kebumikan di desa Bawang Banjarnegara.

Setelah Adipati Paguwan mangkat maka digantikan oleh anak angkatnya yaitu Raden Ketuhu (Adipati Anom Wirautama) dengan gelar Adipati Wirautama II.  Dan secara turun temurun di gantikan oleh Adipati Urang dengan gelar Wirautama III. Dipati Urang berputra Adipati Sutawinata/Surawin bergelar Wirautama IV. Adipati Sutawinata/Surawin digantikan Raden Tambangan diangkat menjadi adipati oleh Kesultanan Demak di beri gelar Sura Utama. Raden Tambangan  kemudian menjadin hubungan terlarang (misanan/tunggal buyut)  dengan Putri Banyak Geleh Pasirbatang (Pangeran Senapati Mangkubumi II) yaitu Dewi Lungge. Hubungan ini melahirkan tiga orang anak, yaitu Raden Warga (Warga Utama I), Jaka Gumingsir dan Ki Toyareka (Demang). Setelah Raden Tambangan meninggal lalu Raden Warga mengantikan ayahnya, dengan gelar Adipati Warga Utama I, dan mempunyai 4 keturunan yaitu Rara Kartimah, Ngabhei Wargawijaya, Ngabhei Wirakusuma dan Raden Rara Sukartiyah/Sukesi (istri anak dari Ki Demang Toyareka).

Pada masa pemerintahan Adipati Wirautama II sampai dengan Adipati Warga Utama I terjadi pergantian masa kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak yang di dirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478, Kesultanan Demak sebelumnya adalah kadipaten pada masa kekuasaan Majapahit yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Kesultanan Demak cepat sekali mengalami kemunduran karena adanya perebutan kekuasan diantara kerabat Kesultanan. Pewaris tahta terakhir adalah Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggana dan anak dari Ki Ageng Pengging yang di hukum mati karena di tuduh akan memberontak terhadap Kesultanan Demak. Joko Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya (1546 – 1587). Sultan Adiwijaya memindahkan ibukota Kesultanan Demak ke Pajang (Solo). Kerajaan Pajang (1568–1586) hanya memiliki tiga Raja dan raja yang terakhir adalah Pangeran Benawa yang berkuasa sampai tahun 1587 M.

Kisah Joko Kahiman

Saat Adipati Warga Utama I menjabat mempunyai banyak panakawan yang diambil dari para petinggi dan kadipaten Wirasaba. Para panakawan tidur di halaman. Pada suatu malam pada saat bulan purnama, Adipati Warga Utama melihat cahaya masuk ke dalam tubuh salah seorang panakawan yang tidak dikenali oleh Sang Adipati. Oleh karena itu, Sang Adipati merobek bebed panakawan tersebut untuk mengenalinya.

Pada pagi harinya, panakawan yang di sobek bebednya dipanggil, ternyata punakawan tersebut adalah Jaka kaiman punakawan dari Kejawar dan setelah itu diberitahunya bahwa ia akan dijadikan menantu. Jaka Kaiman akan dinikahkan dengan puteri Adipati Warga Utama yang bernama Rara Kartimah dan uang lima riyal sebagai pitukon.

Jaka Kaiman disuruh pulang oleh Sang Adipati agar memberitahukan ayahnya dan diikuti oleh dua orang utusan dari Wirasaba.

Pada suatu hari, Prabu Linggakarang dari Kerajaan Bonokeling, ingin menguji kesaktian Prabu Brawijaya V. Diutusnya seorang patih bernama Ki Tolih ke Majapahit. Ki Tolih pun berangkat dengan mengendarai seekor burung besar (sejenis garuda) yang dinamai burung Mahendra. Dan bersenjatakan keris ligan (tanpa sarung.) (keris Kyai Gajah Endro)

Pada waktu itu, Prabu Brawijaya mempunyai firasat yang tidak baik. Dia memerintahkan untuk menutup semua sumur dan mata air di Majapahit. Tetapi, ada satu sumur yang tidak di tutup, yaitu sumur di daerah kepatihan yang dijaga oleh Raden Arya Gajah.

Sesampainya di Majapahit, burung Mahendra kehausan. Setelah mencari kesana kemari, sampailah mereka di sumur yang terletak di kepatihan. Begitu burung Mahendra hendak minum dari sumur tersebut, tiba-tiba dihadang oleh Raden Arya Gajah dan dibunuh. Ki Tolih pun ditangkap.

Ketika Ki Tolih akan diadili dihadapan raja, tiba-tiba kuda milik Prabu Brawijaya terlepas dan memberontak. Tidak ada seorangpun yang dapat menangkapnya. Melihat itu, Ki Tolih memohon untuk membantu asalkan ia diberi tali kekang burung Mahendra Prabu Brawijaya mengijinkan dengan syarat bila berhasil, Ki Tolih akan dibebaskan dan diangkat menjadi pembesar Majapahit. Tetapi bila gagal, dia akan dihukum mati.

Dan benar saja, begitu kuda raja, yang dinamai Kiai Joyotopo, melihat tali kekang burung Mahendra di tangan Ki Tolih, langsung jinak kembali. Prabu Brawijaya masih belum begitu saja mempercayai Ki Tolih. Dilepasnya seekor singa buas. Ternyata singa itu pun langsung jinak begitu melihat tali kekang tadi.

Sesuai janji Prabu Brawijaya, Ki Tolih dibebaskan, tetapi dia menolak menerima hadiah dan jabatan. Dia memilih menetap di Majapahit. Permintaan Ki Tolih dikabulkan. Keris miliknya pun, yang tanpa sarung, juga dikembalikan pada Ki Tolih.

Setelah beberapa lama menetap di Majapahit, Ki Tolih berniat memesan sarung (wrangka) untuk kerisnya. Dia pergi ke daerah Banyumas dan menemui seorang ahli keris, Kiai Mranggi Kejawar.

Kiai Mranggi Kejawar, yang tak lain adalah ayah angkat Raden Jaka Kahiman, menyanggupi membuat sarung untuk keris Ki Tolih. Namun tiba-tiba keris itu hilang saat diserahkan kepada Kiai Mranggi Kejawar. Mereka berdua terperanjat. Kemudian Ki Tolih mengatakan bahwa mungkin keris itu memang bukan haknya.

Pada saat yang bersamaan, Raden Jaka Kahiman yang sedang dalam perjalanan dari Wirasaba menuju Kejawar, ke rumah orang tua angkatnya, untuk memberitahukan rencana pernikahannya dengan putri Adipati Wirasaba. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyelinap di ikat pinggangnya. Ternyata itu adalah sebilah keris tanpa sarung. Dia sangat keheranan.

Sesampainya di Kejawar, Kiai Mranggi dan Ki Tolih yang masih ada di sana terheran-heran melihat Jaka Kahiman datang memakai keris tanpa sarung yang ternyata keris milik Ki Tolih.

Ketika ditanyakan oleh Ki Tolih, apakah Jaka Kahiman menyukai keris tadi, Jaka Kahiman mengatakan kalau dia amat suka dengan keris itu, tetapi tidak mau memilikinya karena bukan haknya.

Ki Tolih dengan ikhlas memberikan keris itu kepada Jaka Kahiman dan berpesan agar dipakai pada saat upacara pernikahannya.

Demikianlah, Raden Jaka Kahiman selain sebagai seorang yang “terpilih”, dia adalah seorang yang jujur dan baik hatinya.

Raden Joko Kahiman pun menyampaikan permintaan Kanjeng Adipati. Dan Karena tidak mampu, Kiai Mranggi Kejawar (ayah angkat Jaka Kaiman) meminta bantuan keuangan kepada Banyak Kumara di Kaleng yang masih Kerabat dari Joko Kahiman.. Sebenarnya Joko Kaiman adalah putera Raden Banyak Sosro dengan ibu adalah puteri Adipati Banyak Geleh (Wirakencana/Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kaiman diasuh oleh Kyai Mranggi di Kejawar, yang terkenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu puteri Raden Baribin yang bungsu.‎

Setelah semuanya siap Raden Joko Kahiman pun berpamitan pulang ke Kadipaten.‎ Ki tolih pun meramalkan Jaka Kaiman akan menjadi Penguasa di Wirasaba dan akhirnya keris Gajah Endra di bawanya pulang  Jaka kaiman kembali ke Wirasaba dan menikahi Rara Kartimah putri dari Adipati Warga Utama I.

‎Adipati Wirasaba Wargatuma I mengawinkan puterinya yang belum cukup umur, bernama Rara Sukartiyah, mendapatkan Bagus Sukara anak Ki Gede Banyureka Demang Toyareka. Dalam hidup rumah tangga kedua pasangan itu tiada kecocokan. Pihak Puteri tidak bersedia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

 Akibat sikap istrinya itu, Bagus Sukra terpaksa pulang kerumah orang tuanya di Toyareka. Kepulangan puterinya itu diterima oleh Ki Gede Banyureka dengan hati masygul. Ia menganggap dan menuduh Adipati Wirasaba tidak bisa membimbing Puterinya. Dan rasa dendam mulailah bersarang dalam batin Ki Gede Banyureka.

Begitulah sudah menjadi kebiasaan, tiap tahun Sultan Pajang R. Hadiwijaya yang menjadi atasannya, secara bergilir meminta upeti seorang gadis yang masih suci kepada bawahannya, untuk dijadikan selir atau penari kesultanan. Karena kesetiannya, Adipati Wargautama I menyerahkan Rr Sukartiyah (Puterinya) kepada Baginda Sultan. Ia mengatakan kepada Sultan bahwa puterinya itu masih dalam keadaan suci. Selesai menghaturkan segera ia beranjak meninggalkan pendapa kesultanan.

Tetapi sesaat kemudian, datanglah Ki Gede Bnyureka bersama Bagus Sukra menghadap Sultan. Kedua orang ini mengatakan, bahwa Rara Sukartiyah yang baru saja dihaturkan itu isteri Bagus Sukra.

Mendengar laporan itu, murkalah Sultan Mandiwidjaya karena merasa dirinya telah dikibuli dan dihina oleh Adipati Wargautama I. Tanpa pikir panjang disuruhlah seorang gandek (prajurit)agar memburu dan membunuh Adipati Wirasaba yang belum lama meninggalkan pendapa kesultanan.

Setelah Ki Banyureka beserta anaknya mohon diri, dipanggilah Rara Sukartiyah dimintai keterangan. Rara Sukartiyah menjelaskan, dan mengakui bahwa dirinya memang masih menjadi isteri Bagus Sukra, tetapi sejak mulai kawin belum pernah melakukan kewajiban sebagai seorang istreri.

Maka sadarlah Baginda Sultan, bahwa putusan yang diambilnya tadi sebenarnya sangat tergesa-gesa. Karenanya diperintahkan lagi seorang prajurit agar menyusul dan membatalkan hukuman mati yang akan oleh utusan pertama.

 Perjalanan Adipati Wirasaba Adipati Wirasaba sementara itu sudah sampai di desa Bener. Sedang mengaso di sebuah rumah balai malang (rumah yang pintu depannya dibawah pongpok) sambil makan hidangan nasi dan lauk daging angsa. Tiba-tiba datanglah seorang prajurit pajang dengan tombak di tangan siap membunuhnya. Tentu saja sikap prajurit Pajang itu menjadi kejutan bagi Adipati Wirasaba. Bersamaan dengan itu, dari kejauhanterdengar suara orang berteriak. Tatkala prajurit yang siap membunuh menoleh kearah datangnya suara itu, terlihat rekannya (utusan kedua) melambaikan tangan. Tanpa piker panjang diutuskannya tombak itu kepada Adipati Wirasaba, sehingga korban jatuh terkapar berlumuran darah. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan ari Sabtu Pahing.

Kedua prajurit itu kemudian menyesal, setelah sama-sama mengerti bahwa lambaian tangan tadi sebenarnya merupakan isyarat, agar pembunuhan dibatalkan. Sesaat sebelum menemui ajalnya Adipati Wargatuma I konon sempat member pesan, agar orang-orang Banyumas sampai turun-temurun jangan beprgian di hari sabtu pahing, jangan makan daging angsa, jangan menempati rumah balai malang dan jangan menaiki kuda berwarna dawuk bang. Karena menurutnya dapat mendatangkan malapetaka. Kecualai itu Adipati juga berpesan agar orang-orang Wirasaba tidak dikawinkan dengan orang Toyareka. Pesan-pesan tersebut dijadikan prasasti pada makam Adipati Wirasaba dan menjadi kepercayaan turun temurun di sementara masyarakat Banyumas. Namun kepercayaan itu kini kini sudah semakin menipis, karena masyarakat kian menyadari akan perlunya memelihara persatuan dan kesatuan serta demi suksesnya pembangunan nasional.

Jenazah Adipati Wirasaba Wrgautama I kemudian dimakamkan di desa klampok Kabupaten Banjarnegara dan dikenal dengan sebutan makam Adipati Wirasaba.

hikmah yang dapat diambil dari babad tersebut adalah

aja lelungan dina setu pahing, artinya dalam tradisi jawa adalah jangan bepergian, mantu, mbangun rumah, dan lain-lain di hari sabtu pahing.
aja mangan daging banyak, artinya sesama trah BANYAK jangan saling menzalimi. Hidup harus saling membantu tidak boleh saling menjatuhkan, apalagi satu trah.

aja nunggang jaran kulawu jongkla, artinya kuda pilihan tunggangan para senopati perang. penunggangnya pun harus tangkas dan gagah berani. wujud sikap ksatria biasanya menimbulkan sikap iri dan dengki dari pihak lain, bahkan kecurigaan dari pihak sang penguasa( jangan-jangan mau memberontak?), sehingga mudah menimbulkan fitnah. demikianlah peristiwa yang menimpa adipati.

aja manggon umah sunduk sate, artinya di Jawa sebagian besar adatnya istana menghadap simpang tiga jalan umum secara tegak lurus. maka yang sebenarnya adalah bersikap dan bertindak hati-hati jangan sampai menentang kehendak penguasa. akan tetapi secara rasional, rumah seperti itu memang sangat berbahaya dan tidak efisien. rumah pas di pertigaan tanpa ada halaman luas, jika ada angin kencang maka kotoran akan langsung masuk kerumah. begitu juga para maling akan lebih mudah dalam mencuri atau merampok sebuah rumah.

Setelah kematian Adipati Warga Utama I, Sultan Pajang Adiwijaya kebingungan dan merasa sangat bersalah dan atas kejadian ini. Maka dengan segera Sultan Pajang memanggil putera Adipati Warga Utama I, namun tidak ada yang berani menghadap. Maka satu dari dua putra menantu Adipati yaitu Raden Joko Kaiman (suami R. Rara Kartimah) memberanikan diri untuk menghadap dengan menanggung apapun segala resikonya.

Bukan amarah dan murka yang di dapat tetapi anugerah dijadikannya Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Karena Raden Joko Kaiman bukan keturunan kandung dari Adipati yang terbunuh maka teks pengangkatanpun harus dirubah.

Dan atas kemurahan Sultan Pajang akhirnya Wirasaba dibagi menjadi empat yaitu;

1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.

2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.

3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.

4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.


Atas pembagian ini maka Adipati Warga Utama II juga Bergelar Adipati Mrapat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar