Minggu, 16 Februari 2020

Sejarah Kerajaan Talaga


Kerajaan Talaga Manggung Pada kira-kira zaman abad sebelum ke 15, kewadanaan Talaga adalah bekas salah satu kerajaan, yang terletak di Kabupaten Majalengka, bertahta bernama Sunan Talaga Manggung, asal keturunan Raja ‎Prabu Siliwangi, kerajaan di Sangiang. Dia mempunyai dua orang putra, satu laki-laki dan satu perempuan, yang laki-laki bernama Raden Panglurah dan yang perempuan bernama Ratu Simbar Kencana.
Raden Panglurah tidak ada dikeraton sedang melakukan tetapa di Gunung Bitung sebelah selatan Talaga. Ratu Simbar Kencana mempunyai suami kepala seorang patih di keraton tersebut, yang bernama Palembang Gunung, berasal dari Palembang. Patih Palembang Gunung setelah dirinya dipercaya oleh mertuanya, yaitu sunan Talaga Manggung dan ditaati oleh masyarakatnya, timbul pikiran yang murka ingin menjadi seorang raja di Sangiang Talaga, dengan maksud akan membunuh mertuanya Sunan Talaga Manggung.
Setelah mendapat keterangan dari seorang mantra yang bernama Citra Singa, bahwa sang raja sangat gagah perkasa tidak satu senjata atau tumbak yang mampu mengambil patinya raja, melainkan oleh suatu senjata tumbak kawannya raja sendiri ketika ia lahir, dan oleh Citra Singa diterangkan bahwa yang dapat mengambil senjata itu hanya seorang gendek kepercayaan raja yang bernama Centang Barang. Setelah mendapatkan tombak tersebut, kemudian Palembang Gunung membujuk dengan perkataan yang manis-manis dan muluk-muluk kepada Centang Barang untuk mengambil senjata tersebut, dan melakukan pembunuhannya, bila berhasil akan diganjar kenaikan pangkatnya. Kemudian setelah Centang Barang mendapatkan bujukan yang muluk-muluk dari Palembang Gunung ia bersedia melakukan pembunuhan itu.
Pada suatu waktu kira-kira jam lima pagi Sunan Talaga Manggung baru bangun dari tidurnya dan menuju jamban, dia diintai oleh Centang Barang, kemudian di tempat yang gelap ditumbak pada pinggang sebelah kiri, sehingga mendapat luka yang parah. Centang Barang setelah melakukan lari jauh dan diburu oleh yang menjaga, tetapi sang prabu bersabda, “Biarlah si Centang Barang jangan diburu, nanti juga ia celaka mendapat balasan dari Dewa karena ia durhaka.” Setelah si Centang Barang keluar dari keraton, ia menjadi gila, ia menggigit-gigit anggota badannya sampai ia mati.
Palembang Gunung Mendapat kabar tentang peristiwa itu, lalu ia berangkat menengoknya, tetapi keraton tidak ada, hilang dengan seisinya, hilang menjadi situ yang sekarang dinamakan Situ Sangiang Talaga. Setelah keadaan keraton hilang, Patih Palembang Gunung diangkat menjadi raja di Talaga.
Lama kelamaan peristiwa itu terbongkar dan ada diantaranya yang memberitahukan kepada Ratu Simbar Kencana, bahwa kematian ayahandanya adalah perbuatan suaminya sendiri. Setelah mendapatkabar itu maka Simbar Kencana membulatkan hati untuk membalas dendam kepada suaminya.. Pada saat Palembang Gunung sedang tidur nyeyak di tikamnya, digorok, oleh tusuk konde ratu Simbar Kencana, sehingga mati seketika itu juga.
Setelah gunung palembang itu mati, kerajaan belum ada yang menjabatnya maka di angkat Raden Panglurah yang baru pulang dari petapaan. Sedatangnya ke sangiang dia merasa kaget karena keadaan keraton sudah musnah hanya nampak situ saja dan setelah dia mendapat kabar dari orang yang bertemu di tempat itu bahwa keraton sudah dipindah tempatkan ke Walang Suji (Desa Kagok).
Ketika Ratu Simbar Kencana sedang kumpulan dengan ponggawa, datanglah Raden Panglurah yang menuju kepada Ratu Simbar Kencana dan kemudian oleh ratu Simbar Kencana diterangkan atas kematian ayahandanya. Kemudian Raden Panglurah meminta agar yang melanjutkan pemerintahan adalah Ratu Simbar kencana sendri, dan dia akan menyusul ayahandanya dengan meminta empat dinas pahlawannya, setelah permintaan dikabukannya, dia menuju Situ Sangiang dan setelah tiba di Situ Sangiang tersebut dia beserta pengiringnya turun ke situ sangiang dan turut menghilang.
Setelah Palembang Gunung meninggal dunia, Ratu Simbar kencana menikah lagi deangan Raden Kusumalaya Ajar Kutamangu, keturunan Galuh dan mempunyai putra Sunan Parung, dan setelah Ratu Simbar Kencana meninggal dunia, kerajaan pun diturunkannya kepada putranya Sunan Parung. Sunan Parung mempunyai putra istri bernama Ratu Parung, melanjutkan kerajaannya dengan mempunyai suami Raden Rangga Mantri putranya Raden Munding Sari Agung, keturunan Prabu Siliwangi  Pajajaran.
Dari waktu itu Raden Rangga Mantri dan Ratu Parung agamanya ganti menjadi Islam dari agama sebelumnya, yang dikembangkan oleh Syarif Hidayatullah. Raden Rangga Mantri setelah menjadi Islam namanya diganti Prabu Pucuk Ulum. Prabu Pucuk Ulum mempunyai putra bernama Sunan Wana Prih yang akhirnya menjadi Raja bertempat di Walang Suji (Desa Kagok). Sunan Wana Perih mempunyai putra Ampuh Surawijaya Sunan Kidak. Setelah Sunan Wana Perih Meninggal dunia tahta kerajaannya diturunkan kepada Ampuh Surawijaya dan kerajaan dipindahkan dari Walang Suji ke Talaga.
Ampuh Sura Wijaya mempunyai putra bernama Sunan Pangeran Surawijaya, Sunan Ciburuy, diturunkan kepada putranya Dipati Suarga. Dari putra Dipati Suarga diturunkan kepada putranya Dipati Wiranata. Kemudian kerajaan itu diturunkan kepada putranya bernama Raden Saca Eyang hingga abad ke tujuh belas.
Kerajaan dipindahkan (dihilangkan) karena penjajahan, dan pada waktu itu kerajaan di Talaga menjadi Kabupaten. Raden Saca Nata Eyang meninggalkan kepangkatannya. Diturunkan kepada putranya bernama Aria Secanata. Setelah itu Kabupaten dipindahkan ke Majalengka bertempat di Sindangkasih. Waktu Kabupaten dipindahkan Bupati, Raden Sacanata menolak sampai dia pada waktu itu dipensiunkan. Dia mempunyai putra bernama Pangeran Sumanegara. Pangeran Sumanegara mempunyai putri bernama Nyi Raden Angrek dan mempunyai suami bernama Kertadilaga putra Pangeran Kartanegara, Kamboja. Dari Kartadiliga mempunyai putra bernama Natakusumah di Cikifai Talaga, sampai sekarang keturunanya masih ada, menjaga (memelihara) barang-barang kuno keturunan Raja Talaga. Barang-Barang kuno tersebut adalah Baju Kera, Arca, Gamelan, Tuah Meriam, Bedil Sundut, dan perkakas lainya yang sekarang masih ada.
Pemerintahan Kerajaan Talaga
Pemerintahan Batara Gunung Picung
Kerajaan Hindu di Talaga berdiri pada abad XIII Masehi, Raja tersebut masih keturunan Ratu Galuh bertahta di Ciamis, dia adalah putera V, juga ada hubungan darah dengan raja-raja di Pajajaran atau dikenal dengan Raja Siliwangi. Daerah kekuasaannya meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Maja dan sebagian Selatan Majalengka. Pemerintahan Batara Gunung Picung sangat baik, agama yang dipeluk rakyat kerajaan ini adalah agama Hindu. Pada masa pemerintahaannya pembangunan prasarana jalan perekonomian telah dibuat sepanjang lebih 25 Km tepatnya Talaga - Salawangi di daerah Cakrabuana. Bidang Pembangunan lainnya, perbaikan pengairan di Cigowong yang meliputi saluran-saluran pengairan semuanya di daerah Cikijing. Tampuk pemerintahan Batara Gunung Picung berlangsung dua windu. Raja berputera enam orang yaitu : Sunan Cungkilak, Sunan Benda, Sunan Gombang, Ratu Panggongsong Ramahiyang, Prabu Darma Suci, Ratu Mayang Karuna. Akhir pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Prabu Darma Suci.
Pemerintahan Prabu Darma Suci
Disebut juga Pandita Perabu Darma Suci. Dalam pemerintahan raja ini Agama Hindu berkembang dengan pesat abad ke-XIII. Nama dia dikenal di Kerajaan Pajajaran, Mataram, Jayakarta sampai daerah Sumatera. Dalam seni pantun banyak diceritakan tentang kunjungan tamu-tamu tersebut dari kerajaan tetangga ke Talaga, apakah kunjungan tamu-tamu merupakan hubungan keluarga saja tidak banyak diketahui. Peninggalan yang masih ada dari kerajaan ini antara lain Benda Perunggu, Gong, Harnas atau Baju Besi. Pada abad XIIX Masehi dia wafat dengan meninggalkan dua orang putera yakni Bagawan Garasiang dan Sunan Talaga Manggung
Pemerintahan Sunan Talaga Manggung
Tahta untuk sementara dipangku oleh Begawan Garasiang namun dia sangat mementingkan kehidupan spiritual sehingga akhirnya tak lama kemudian tahta diserahkan kepada adiknya Sunan Talaga Manggung.Tak banyak yang diketahui pada masa pemerintahan raja ini selain kepindahan dia dari Talaga ke daerah Cihaur Maja.
Pemerintahan Sunan Talaga Manggung
Sunan Talaga Manggung merupakan raja yang terkenal sampai sekarang karena sikap dia yang adil dan bijaksana serta perhatian dia terhadap agama Hindu, pertanian, pengairan, kerajinan serta kesenian rakyat. Hubungan baik terjalin dengan kerajaan tetangga maupun kerajaan yang jauh, seperti misalnya dengan Kerajaan Majapahit, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Cirebon maupun Kerajaan Sriwijaya. Dia berputera dua, yaitu Raden Pangrurah dan Ratu Simbarkencana. Raja wafat akibat penikaman yang dilakukan oleh suruhan Patih Palembang Gunung bernama Centang Barang. Kemudian Palembang Gunung menggantikan Sunan Talaga Manggung dengan beristrikan Ratu Simbar Kencana. Tidak beberapa lama kemudian Ratu Simbar Kencana membunuh Palembang Gunung atas petunjuk hulubalang Citrasinga dengan tusuk konde sewaktu tidur. Dengan meninggalnya Palembang Gunung, kemudian Ratu Simbarkencana menikah dengan turunan Panjalu bernama Raden Kusumalaya Ajar Kutamanggu dan dianugrahi delapan orang putera diantaranya yang terkenal sekali putera pertama Sunan Parung.
Pemerintahan Ratu Simbarkencana
Sekitar awal abad XIV Masehi, dalam tampuk pemerintahannya Agama Islam menyebar ke daerah-daerah kekuasaannya dibawa oleh para Santri dari Cirebon.juga diketahui bahwa tahta pemerintahan waktu itu dipindahkan ke suatu daerah disebelah Utara Talaga bernama Walangsuji dekat kampung Buniasih.Ratu Simbarkencana setelah wafat digantikan oleh puteranya Sunan Parung.
Pemerintahan Sunan Parung
Pemerintahan Sunan Parung tidak lama, hanya beberapa tahun saja. Hal yang penting pada masa pemerintahannya adalah sudah adanya Perwakilan Pemerintahan yang disebut Dalem, antara lain ditempatkan di daerah Kulur, Sindangkasih, Jerokaso Maja. Sunan Parung mempunyai puteri tunggal bernama Ratu Sunyalarang atau Ratu Parung. PutriSunan Parung, yang bernama Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santriyang menjadi penerus Kerajaan Sumedang Larang
Pemerintahan Ratu Sunyalarang
Sebagai puteri tunggal dia naik tahta menggantikan ayahandanya Sunan Parung dan menikah dengan turunan putera Prabu Siliwangi bernama Raden Rangga Mantri atau lebih dikenal dengan Prabu Pucuk Umum. Pada masa pemerintahannya Agama Islam sudah berkembang dengan pesat. Banyak rakyatnya yang memeluk agama tersebut hingga akhirnya baik Ratu Sunyalarang maupun Prabu Pucuk Umum memeluk Agama Islam. Agama Islam berpengaruh besar ke daerah-daerah kekuasaannya antara lain Maja, Rajagaluh dan Majalengka. Prabu Pucuk Umum adalah Raja Talaga kedua yang memeluk Agama Islam. Hubungan pemerintahan Talaga dengan Cirebon maupun Kerajaan Pajajaran baik sekali. Sebagaimana diketahui Prabu Pucuk Umum adalah keturunan dari prabu Siliwangi karena dalam hal ini ayah dia yang bernama Raden Munding Sari Ageung merupakan putera dari Prabu Siliwangi. Jadi pernikahan Prabu Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang merupakan perkawinan keluarga dalam derajat ke-IV.Hal terpenting pada masa pemerintahan Ratu Sunyalarang adalah Talaga menjadi pusat perdagangan di sebelah Selatan. Ratu Sunyalarang saudara dengan Ratu Pucuk Umun suami Pangeran Santri.
Pemerintahan Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umum
Dari pernikahan Raden Rangga Mantri dengan Ratu Parung (Ratu Sunyalarang putri Sunan Parung, saudara sebapak Ratu Pucuk Umun suami Pangeran Santri) melahirkan enam orang putera yaitu Prabu Haurkuning, Sunan Wanaperih, Dalem Lumaju Agung, Dalem Panuntun, Dalem Panaekan. Akhir abad XV Masehi, penduduk Majalengka telah beragama Islam. Dia sebelum wafat telah menunjuk putera-puteranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasaannya, seperti halnya : Sunan Wanaperih memegang tampuk pemerintahan di Walagsuji; Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja; Dalem Panuntun di Majalengka sedangkan putera pertamanya, Prabu Haurkuning, di Talaga yang selang kemudian di Ciamis. Kelak keturunan dia banyak yang menjabat sebagai Bupati.Sedangkan dalem Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, Sukamenak, Nunuk Cibodas dan Kulur. Prabu Pucuk Umum dimakamkan di dekat Situ Sangiang Kecamatan Talaga.
Pemerintahan Sunan Wanaperih
Terkenal Sunan Wanaperih, di Talaga sebagai seorang Raja yang memeluk Agama Islam pun juga seluruh rakyat di negeri ini semua telah memeluk Agama Islam. Dia berputera enam orang, yaitu Dalem Cageur, Dalem Kulanata, Apun Surawijaya atau Sunan Kidul, Ratu Radeya, Ratu Putri, Dalem Wangsa Goparana. Diceritakan bahwa Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan sedangkan Ratu Putri menikah dengan putra Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan bernama Sayid Faqih Ibrahim lebih dikenal ‎Sunan Cipager. Dalem Wangsa Goparana ‎pindah ke Sagalaherang, kelak keturunan dia ada yang menjabat sebagai bupati seperti Bupati Wiratanudatar I di Cikundul. Sunan Wanaperih memerintah di Walangsuji, tetapi dia digantikan oleh puteranya Apun Surawijaya, maka pusat pemerintahan kembali ke Talaga.
Putera Apun Surawijaya bernama Pangeran Ciburuy atau disebut juga Sunan Ciburuy atau dikenal juga dengan sebutan Pangeran Surawijaya menikah dengan putri Cirebon bernma Ratu Raja Kertadiningrat saudara dari Panembahan Sultan Sepuh III Cirebon.Pangeran Surawijaya dianungrahi 6 orang anak yaitu Dipati Suwarga, Mangunjaya, Jaya Wirya, Dipati Kusumayuda, Mangun Nagara, Ratu Tilarnagara. Ratu Tilarnagara menikah dengan Bupati Panjalu (Kerajaan Panjalu Ciamis) yang bernama Pangeran Arya Sacanata yang masih keturunan Prabu Haur Kuning. Pengganti Pangeran Surawijaya ialah Dipati Suwarga menikah dengan Putri Nunuk dan berputera dua orang, yaitu Pangeran Dipati Wiranata, Pangeran Secadilaga atau pangeran Raji. Pangeran Surawijaya wafat dan digantikan oleh Pangeran Dipati Wiranata dan setelah itu diteruskan oleh puteranya Pangeran Secanata, Raga Sari yang menikah dengan Ratu Cirebon mengantikan Pangeran Secanata. Arya Secanata memerintah ± tahun 1762; pengaruh V.O.C. sudah terasa sekali. Hingga pada tahun-tahun tersebut pemerintahan di Talaga diharuskan pindah oleh V.O.C. ke Majalengka. Karena hal inilah terjadi penolakan sehingga terjadi perlawanan dari rakyat Talaga.Peninggalan masa tersebut masih terdapat di museum Talaga berupa pistol dan meriam.
Situs Dan Budaya Nunuk Baru sejarah Berdirinya Kerajaan Talaga 
Desa Nunuk Baru berada di wilayahKecamatan Maja di sebelah Selatan  KotaKabupaten Majalengka, sekaligus bisa menjadi jalur Alternatif dari Kota Majalengka Menuju Kecamatan Talaga dan Kecamatan Bantarujeg.Di Desa Nunuk Baru sendiri banyak makom keramat yang erat hubunganya dengan sejarah Kerajaan Talaga Manggung (sekarang Talaga) dan untuk kekinian adalah berdirinya Kota Majalengka, adapun Makam Keramat Tersebut diantaranya :
Makam Pajaten atau Pajatian ( Makam Ibu Arya Saringsingan )
Makam pajaten terletak disebelah barat Blok Nunuk dipinggir kali cisuluheun dilokasi sawah pajaten, Ibu Arya adalah asli putri lahiran Nunuk yang menjadi Istri Kedua (Selir) Raja Talaga yaitu Prabu Pucuk Umun. Adapun Hasil Pernikahan Prabu Pucuk Umun dengan Ibu Arya telah melahirkan Seorang Putra yang Bernama Raden Arya Saringsingan yang makamnya sekarang berlokasi di Desa Banjaran Girang. Raden Arya Saringsingan diangkat Oleh raja Talaga sebagai Senopati/Panglima tertinggi Kerajaan Talaga, yang mempunyai kesaktian Luar biasa dengan memegang senjata Tombak Naga Kaki Lima Centang Barang.
Makam Cileuweung ( Makam Hariyang Banga )  
Makam cileuweung terletak di sebelah Barat Daya Blok Nunuk Desa Nunuk Baru. Hariyang Banga adalah Putra dari ibu Dewi Pangrenyep istri Raja Pajajaran, dicileuweung sendiri ada tiga makam keramat diantaranya makam Mbah Hariyang Banga, Makam Ibu Langensari, Makam Mbah Haji Kasakten. Dicileuweung sendiri dulunya ada sebuah sendang/kolam mata air yang sampai sekarang air tersebut sering dikeramatkan oleh sebagian masyarakat untuk maksud-maksud tertentu, diantaranya yang mempunyai Niat berkecimpung di dunia Pemerintahan.
Makam Kosambi (Makam Mbah Prabustika)
Makam kosambi terletak dilokasi sawah kosambi sebelah timur Blok Nunuk, Nama asli Mbah Prabustika adalah Mbah Jupri. Mbah Jupri adalah seorang kepala pemerintahan kerajaan yang ada dilokasi Nunuk, dia adalah seorang ulama yang dihormati dan mempunyai kesaktian sangat Tinggi. Singkat cerita Mbah Jupri ditangkap oleh musuh kemudian dikampa/jepit oleh jepitan minyak sampai dianggap telah meninggal tapi ternyata waktu dibuka dia malah tertawa terbahak-bahak. Kemudian Mbah Jupri dihanyutkan kesungai yang sedang Banjir tapi bukanya hanyut kehilir malah hanyut kearah Hulu, dan akhirnya semua musuh pada ketakutan, maka Mbah Jupri Mendapat gelar Prabustika yang dianggap dalam tubuhnya terdapat Mustika kesaktian.
Makam Panguyangan Gede (Makam Mbah Dipati Ukur)
Makam ini terletak disebelah selatan Blok Nunuk yang posisinya agak diatas/bukit dari Blok Nunuk. Nama asli yang dimakamkan di Panguyangan Gede adalah Mbah Sugenda dengan gelar kehormatan Mbah Dipati Ukur yang berpangkat Adipati, dan tugas dari Mbah Sugenda adalah sebagai Pengukuran tanah seluruh Jawa lintas Negara, yang mempunyai keajaiban luar biasa, diantaranya pada saat melakukan pengukuran tanah dia tidak pernah turun dari kuda dan melakukan pengukuran dengan berjalan Mundur. Di antarakelebihan dia adalah mempunyai kekayaan berlimpah dengan banyaknya gudang-gudang padi, yang sering dipakai untuk menolong orang banyak yang dalam kesusahan, pakir miskin, yatim piatu, dan orang-orang jompo lainya. Maka makam tersebut diberi nama Panguyangan Gede. Sampai sekarang masyarakat Nunuk selalu melakukan Ritual dimakam ini apabila musim bercocok tanam dimulai dengan istilah Guar Bumi.
Makam Gunung Taneuh (Mbah Prabu Jaya)  
Makam ini terletak di sebelah timur Blok Nunuk dan sebelah selatan Blok Babakan Desa Nunuk Baru lokasinya berada diatas Bukit yang dikelilingi sawah. Nama asli yang dimakamkan adalah Mbah Sang Prabu Jaya dengan gelar Kehormatan Mbah Luhung, dia adalah seorang Kiyai/Ulama yang disegani oleh semua orang, dimana dia ini salah satu penyebar agama islam di wilayah Nunuk dan sekitarnya. Mbah Sang Prabu Jaya banyak mempunyai kesaktian dengan ilmu yang sangat tinggi, sehingga dia mendapat gelar kehormatan Mbah Luhung. Sampai sekarang makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari mana-mana terutama orang-orang yang mempunyai anak yang akan menempuh pendidikan dari tingkat dasar sampai tingkat selanjutnya.
Museum sebagai bukti sejarah
"Historia Vitae Magistra". Sejarah adalah guru kehidupan pepatah latin itu menggambarkan tentang pentingnya sejarah untuk dipelajari guna melihat masa lalu untuk kemudian dijadikan sebagai bahan pembelajaran dalam memahami masa kini, serta untuk membuat prediksi dimasa yang akan datang, juga dikutif dari pesan moral tokoh Proklamator RI Bung Karno"JASMERAH" Jangan sesekali melupakan Sejarah,  sebagai usaha untuk meneguhkan jati diri dan menggali potensi potensi yang sudah kita milikki sejak dulu.
Perihal itu, museum merupakan tempat yang paling ideal dan tepat jika Anda bemaksud ingin menapaktilasi sesuatu. Karena berbagai benda dan peninggalan suatu masa atau zaman bisa tersimpan secara rapi dan terpelihara dalam sebuah museum.
Museum juga menjadi dokumentasi paling komprehensif ihwal eksistensi atau kejayaan sejarah masa silam. Demikian rupanya yang terjadi pada Museum Talaga Manggung yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Kerajaan Talaga Manggung.
Museum Talaga Manggung sendiri berada di Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, sekitar 26 km dari Kota Majalengka, Jawa Barat.
Akses menuju lokasi tersebut sudah baik, dimana tidak hanya bisa di tempuh oleh kendaraan pribadi melainkan dapat di tempuh oleh angkutan umum seperti Majalengka–Cikijing, Cikijing – Bandung baik jenis mikrolet maupun bus, dan sebagainya.
Banyaknya peninggalan sejarah dari Kerajaan Talaga Manggung seperti kereta kencana, peralatan perang, dan alat kesenian, yang menjadi daya tarik tersendiri, dan adanya adat memandikan perkakas yang rutin dilaksananakan setahun sekali (panjang jimat setiap bulan Mulud-red). Pengunjung yang datang kelokasi wisata budaya ini pada umumnya pelajar dan mahasiswa yang melakukan penelitian.
Untuk tiket masuk pada lokasi wisata budaya ini tidak ada ketentuan biaya yang harus di keluarkan hanya sebatas sumbangan sukarela. Salah satu keturunan dari Kerajaan Talagamanggung yakni Prabu Darma Suci II, Rdn Yuyun M. Yunus yang merupakan generasi 19 kerajaan  mengatakan, museum tersebut sudah berdiri sejak tahun 1991 yang sebelumnya disebut sebagai Bumi Alit dan pada tahun 1993 baru mengalami pemugaran.
Ia menambahkan, awal mula didirikanya museum yang dikelola oleh yayasan dimaksudkan dalam upaya melestarikan dan menitik beratkan pada keamanan barang peninggalan sejarah dari kerajaan Talagamanggung yang tinggal sedikit agar bisa dikelola dengan baik.
Yuyun menjelaskan kini barang peninggalan yang ada di museum hanya tersisa 11 jenis barang diantaranya, seperangkat alat kesenian (goong renteng), senjata pusaka kerajaan berupa keris,tombak dan lainya yang kini hanya tersisa beberapa buah lagi,berbagai macam gerabah, berbagai jenis senjata penunggak, wuwung bekas bangunan keraton, baju kere dan uang Balado yang digunakan sebagai alat tukar pada masa kerajaanya, teko dan genta, batu Bandring, batu pangsolatan, batu menhir sedangkan untuk arca Raden Pangluran dan Ratu Dewi Simbar Kancana disimpan di rumah kasepuhan keturunan kerajaan Talagamanggung.
Tidak disimpanya arca Raden Panglurah dan Ratu Dewi Simbar Kancana yang terbuat dari bahan dasar kuningan ini di museum menurutnya dimaksudkan untuk menghindari dari pencurian.
Menurutnya banyaknya peninggalan dari kerajaan Talagamanggung yang hilang disebabkan rusak karena termakan usia, diambil pemerintahan Hindia Belanda dikala menjajah Indonesia dan kurangnya kepengelolaan semasa dulu disebabkan belum adanya wadah seperti saat ini.
“Sebelumnya peninggalan dari kerajaan Talagamanggung yang tersisa masih banyak namun dikarenakan yang sebagian besar terbuat dari bahan dasar kayu rusak karena termakan usia, sedangkan peninggalan lainya hilang entah kemana disebabkan sering berpindah tangannya kepengurusan karena belum ada wadah seperti saat ini, dengan didirikanya museum dan berdasarkan dari cerita sesepuhnya secara turun-temurun arca Talagamanggung dan sebagianya lagi hilang diambil saat pemerintahan Belanda dulu “
Yuyun memaparkan saat ini pengunjung yang datang ke museum Talagamanggung dalam sebulannya bisa mencapai 200 orang namun hingga kini pihaknya belum mengenakan tarif kepada para penunjung hal itu diakuinya disebabkan melihat keadaan museum yang belum memenuhi kelayakan standar museum semestinya.
Dengan banyaknya kekurangan yang dimiliki museum Talagamanggung hingga saat ini berdampak kepada kurangnya daya tarik sehingga untuk mensiasati pengenalan sejarah Talagamanggung kepada masyarakat khususnya Majalengka pihaknya menggratiskan biaya masuk kepada setiap pengunjung yang datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar